Dari Yogyakarta ke jalan lain ke Havana*

Punkasila dikenal sebagai sebuah band punk dengan Acronym Wars (perang akronim) sebagai album-konsep perdananya. Seluruh album Acronym Wars berisi pelesetan singkatan-singkatan yang tak bisa dihindari penggunaannya dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan. Untuk memberikan gambaran, berikut salah satu lagu mereka:

PKI
PKI x 2
PKI x 2
Partai Komunis Indonesia
Penggemar Komik Indonesia
Penggemar Kaos Indonesia
Partai Kaos Indonesia

PKI x 2
PKI x 2
Partai Komunis Indonesia
Partai Komik Indonesia
Penggemar Kaos Indonesia
Penjahat Kelamin Indonesia

PKI x 2
PKI x 2

Tak usah heran. Negara ini memang penuh dengan singkatan dan akronim, bahkan ada singkatan yang berasal dari penyingkatan. Misalnya, PMB yang kepanjangannya adalah Persib Maung Bandung; padahal Persib sendiri adalah akronim dari Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung.

Punkasila tampak hanya bermain-main dengan memelesetkan akronim-akronim itu menjadi lelucon belaka. Punkasila memang berasal dari plesetan, sekaligus penggabungan, dua kata: ‘Punk’ (aliran musik) dan Pancasila (dasar negara). Kebermainannya bertambah lagi ketika Anda melihat video klip mereka yang menggambarkan seorang tentara berlatih fisik namun kewalahan sendiri. Dalam sebuah wawancara televisi, Wimo (modified communication devices, Punkasila) menyatakan bahwa mereka hanya bermain-main.

Namun, seperti juga diakui Wimo, Punkasila sadar bahwa kebermainannya bisa saja dikaji dengan perspektif apapun, misalnya budaya atau politik. Kenyataannya, akronim toh memang banyak digunakan dalam khazanah militer. Dibawah rezim kepemimpinan eks-militer pulalah akronim (dan eufimisme) semakin dilestarikan penggunaannya dalam Bahasa Indonesia. Beberapa kajian bahasa menuliskan kenyataan itu sebagai represi ekspresi dan perasaan dalam berbahasa.

Selain akronim, negara ini juga akrab dengan pemelesetan. Misalnya, UI yang kepanjangannya adalah Universitas Indonesia; kemudian disebut dengan lafal bahasa Inggris menjadi ‘yu ai’ yang diberi makna tidak ada yang dihitung diluar kamu dan aku. Pemelesetan, menurut Frans Sartono, sudah mulai dilestarikan di Yogyakarta, kota asal Punkasila, sejak lebih dari tiga dekade lalu. Goenawan Mohammad mendefinisikan pelesetan (kurang lebih) sebagai kemahiran spontan masyarakat Jawa untuk mempermainkan kata atau kalimat dengan mengubah makna dan nuansanya.

Karya-karya Punkasila (dan beberapa teman seniman lainnya) yang pernah dipamerkan di Darren Knight Gallery, Australia, juga menggunakan elemen-elemen negara. Misalnya saja, ada patung burung garuda, yang dipelesetkan bentuknya dengan mengganti bagian teks Bhineka Tunggal Ika dengan gitar berbentuk senjata, dan kostum panggung mereka yang adalah batik namun serupa dengan seragam militer. Ya, mereka bermain dengan semua itu. Unsur-unsur keindonesiaan yang digunakan sebagai aksesori oleh Punkasila sangat verbal.

Kembali pada lirik, Punkasila juga hanya memelesetkan akronim-akronim tanpa menyinggung konteks apapun. Punkasila memang hanya bermain dengan elemen-elemen keindonesiaan pada tatanan permukaan. Beberapa hal diataslah yang seringkali dijadikan celah untuk mengkritik Punkasila. Mengingat tahun terbentuknya, 2006, tak jarang mereka dicap terlambat menanggapi fenomena politik yang seharusnya ‘ramai’ pada detik-detik terakhir sebelum reformasi.

Cara pandang yang demikian menurut saya kurang tepat digunakan untuk menilai Punkasila. Selain sebagian besar adalah mahasiswa angkatan 2000-an (yang tentu sudah tak punya semangat ala demonstran mahasiswa 1998), Punkasila adalah sebuah sebuah proyek seni yang dibuat oleh Danius Kesminas, seniman Australia yang dalam karir kesenimanannya pernah membentuk band serupa, Histrionics –yang juga memelesetkan beberapa lagu rock populer dengan lirik-lirik bermuatan kritik seni rupa.

danius kesminas dan punkasila-omah panggung2

Punkasila, menurut saya, adalah karya seorang Danius Kesminas. Maka, kemudian tak bisa dilepas dari konteks ke-Danius-annya. Lirik-lirik Punkasila yang sekadar pemelesetan akronim itu muncul karena keheranan Danius saat membaca sejarah politik Indonesia dalam buku Damien Kingsbury. Seperti yang dituliskan Nuraini Juliastuti, Danius harus selalu membolak-balik The Politics of Indonesia dari halaman yang sedang dibacanya ke glosariumnya. Keterlalu-banyakan akronim di dalamnya mengherankannya.

September 2006 itu, Danius ke Yogyakarta sebagai duta seni rupa Australia dan tinggal di Yayasan Seni Cemeti (YSC) selama tiga bulan. Disana, ia diasisteni oleh Samuel Bagas Wiraseta. Pemuda yang lebih akrab dengan panggilan Gentong itu diperkenalkan oleh Aisyah Hilal, eks-direktur YSC, sebagai anak muda yang gila musik, gila nongkrong, dan kelebihan energi, sehingga perlu penyaluran yang positif. Danius membangun Punkasila berdasarkan perkenalan Gentong pada para penggila musik dalam ranah senirupa.

Selain Danius, ketujuh personil Punkasila lainnya adalah Uji Handoko (Hahan), Eko Saputro, Rudy Dharmawan (Atjeh), Prayoga Satrio Utomo (Iyok), Janu Satmoko, Prihatmoko Catur (Moki), Gde Krisna Widiathama, dan Wimo Ambala Bayang. Mereka adalah sejumlah seniman yang menggilai musik dan tergabung dalam beberapa band. Semangat bermusik dan berkarya (visual) para seniman (yang sebagian masih berstatus mahasiswa pada saat itu) itu bukanlah semangat perlawanan terhadap pemerintah. Semangat bermain dan berkarya dalam suasana yang menyenangkan lebih akrab dengan seniman-seniman yang masih muda itu.

Lahirlah ‘perang bermain singkatan’ melalui Acronym Wars. Album pertama Punkasila ini diluncurkan pada Juli 2007 di Kedai Kebun Forum. Setelahnya, Punkasila berangkat ke Australia untuk berpartisipasi dalam Asia Pacific Trienalle dan dipamerkan sebagai sebuah proyek seni di Darren Knight Gallery. Sementara disana, ABC Australia meliput mereka dan respon pengunjung pameran mereka. Semua yang disiarkan ABC Australia memang bernada positif dan menyukai Punkasila. Entah atas nama eksotisme atau sekadar keren-kerenan.

Kemudian atas nama apakah respon para pengunjung pameran yang senang, atau bahkan mereka yang sinis –mungkin karena tak mampu– seperti yang banyak saya temukan di Youtube, tak lagi menjadi penting. Menurut saya, bahwa mereka ada dan melakukan sesuatu yang menguntungkan lebih dari pihak mereka sendiri sudah cukup. Punkasila berhasil mempertemukan beragam bentuk kesenian, mengemasnya dengan menarik, kemudian mempresentasikannya dengan ciamik. Punkasila, sebagai sebuah proyek seni, melibatkan banyak pihak dari berbagai disiplin seni.

Dalam ekshibisi Punkasila di Australia, Atjeh membuat sebuah kotak musik berisi miniatur panggung, lengkap dengan aksi panggung para personil Punkasila, dan mendesain topi dengan teks “Haram Rock”. Hahan memproduksi tiga buah kaos. Salah satu desainnya dibuat berdasarkan kaos Circle K, sebuah minimarket 24 jam favorit anak-anak muda sebagai tempat nongkrong yang menjual bir, rokok, dan kondom –maka dengan sendirinya minimarket ini menjadi akrab dengan citra anak muda masa kini dan ‘kepemberontakannya’.

Aksesori-aksesori panggung Punkasila juga merupakan karya kolaborasi Danius dengan seniman-seniman lokal Yogyakarta semasa residensinya. Logo Punkasila didesain Iwan Effendi; sebuah patung ukiran yang menyerupai lambang negara Indonesia, Garuda dan gitar yang mereplika bentuk senjata macam M-16 dan AK-47, beserta dengan hardcase-nya merupakan kolaborasi dengan Adhik Kristiantoro; dan seragam bermotif batik, yang memakai warna-warna seragam militer, dirancang oleh Abdul Syukur.

Selain karya-karya diatas, masih ada beberapa seniman (dan juga karya) lainnya yang dipamerkan di Darren Knight Gallery, Australia. Erwan Hersi Susanto (Iwang) membuat sebuah komik yang tokoh-tokohnya tak lain tak bukan adalah para personil Punkasila; Pius Sigit Kuncoro membuat wayang dari stilisasi para personil Punkasila. Sesi-sesi foto Punkasila, baik yang digunakan pada sampul album mereka maupun yang dipamerkan sebagai koleksi, ditangani oleh Edwin Roseno (Dolly), fotografer dari Ruang Mes 56. Sedangkan untuk video-musiknya, Punkasila mempunyai beberapa dengan sutradara yang berbeda. Kopassus oleh Wimo, Bakorstanas oleh Dolly, dan sebuah video animasi untuk beberapa lagu oleh Terra Bajaghrosa (Laskar Jihad, KORPRI, TNI, DEN, ISI, dan FPI).

Ya, Punkasila memang melibatkan seniman-seniman dari beragam disiplin. Pun demikian, menurut saya, ketransdisiplineran proyek ini bukanlah nilai tambahnya. Nilai tambahnya justru berada pada keterlibatan para seniman lokal –dalam beberapa kajian disebut seniman muda– dalam membantu Danius. Menurut saya, keterlibatan mereka adalah sebuah fase pembelajaran yang baik, mengingat lemahnya sistem (dan kurikulum) pendidikan seni di Indonesia. Melalui proyek seni ini mereka mendapatkan pengalaman bekerjasama dibawah sebuah tema.

Melalui proyek ini juga, para seniman yang terlibat kemudian mendapatkan berbagai kesempatan untuk berpartisipasi dalam sejumlah pameran di Australia dan, dalam waktu dekat ini, Kuba. Maret 2009 ini, Punkasila diundang untuk berpartisipasi dalam Havana Biennial ke-10. Walaupun Havana Biennial kali ini menargetkan pengumpulan kegiatan transdisipliner, karya-karya yang diutamakannya adalah karya-karya yang kaya dalam proses dan eksperimentasinya.

Melihat posisi para personil Punkasila, eksperimentasi dan penekanan pada proses, yang ditekankan Havana Biennial, menjadi sangat penting. Tentunya karena dalam Punkasila mereka (dapat dikatakan) menjadi objek dari karya seorang Danius. Punkasila, sebagai sebuah proyek seni, menjadi ruang eksperimentasi para seniman yang terlibat (secara langsung ataupun tidak) untuk bekerjasama dibawah satu komando dan bagaimana saling berkompromi satu sama lainnya. Selain itu, pemunculan-pemunculan mereka di luar Indonesia juga memberikan kesempatan publik internasional untuk melihat karya-karya seniman ‘muda’ di Indonesia.

Punkasila menjadi penting karena mereka bagian dari proses dan eksperimentasi. Proses itu bukan hanya ketika Danius menjadikan Punkasila sebagai Punkasila tapi juga proses mendorong anak muda dari berbagai disiplin seni untuk memahami model/jenis karya yg sesuai dengan sikap (attitude) mereka. Sehingga secara mentalitas, para seniman itu kemudian menjadi yakin dengan jenis kesenian yang dilakukannya. Posisi para personil Punkasila sebagai obyek dari karya Danius ini tidak menjadikan mereka personal yang berbeda dalam berkarya.

Havana Affair ini diadakan untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin berkontribusi dalam pertumbuhan seniman ‘muda’ Indonesia dalam ranah seni rupa internasional. Walaupun pameran ini, menurut saya, bisa saja dihantarkan dengan perspektif filantropi model ‘dari, oleh, dan untuk dunia seni rupa’; saya memilih untuk tidak melakukannya.

Melalui pengantar singkat ini, saya berusaha mengajak Anda untuk memahami para personil Punkasila sebagai anak-anak muda di depan pintu karir kesenimannya. Sistem pendidikan institusi seni, menurut saya, nyaris tidak punya peranan dalam membangun profesi kesenimanan para seniman ini. Melalui proyek-proyek residensi, interaksi dengan seniman-seniman dalam kancah seni rupa internasional, dan kerjasama-kerjasama model Punkasila inilah mereka lebih berkesempatan untuk belajar.

Havana Affair, yang didukung oleh One Gallery ini, diadakan dengan tujuan penggalangan dana (fundraising) untuk keberangkatan Punkasila ke Havana Biennial. Pameran ini menampilkan sejarah Punkasila, aksesori-aksesori panggung, dan karya-karya yang dibuat oleh para personil Punkasila dan seniman lainnya. Diprakarsai oleh Wimo dan Bambang ‘Toko’ Witjaksono, teman sekaligus pengajar para personil Punkasila di Insititut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, pameran ini kembali merespon proyek seni ini. Keterlibatan para seniman non-personil Punkasila ini merupakan bentuk dukungan riil terhadap Punkasila.

Seniman-seniman yang berkontribusi dalam pameran ini adalah: Noor Sadat Laope dengan performans yang idenya berangkat dari topi militer dan hidung panjang Pinokio; Moki menggarap sebuah komik mengenai Punkasila sekarang; Atjeh, Hendra Priyadi (Blangkon), dan Gintani Nur Apresia Swastika dengan karya-karya grafisnya; Arie Dyanto, Bambang ‘Toko’, Decky Firmansyah (Leos), Iyok, Janu, Krisna, dan Riono Tanggul Nusantara (Tatang) dengan lukisan-lukisannya; dan Terra Bajraghosa dengan sejumlah video animasinya.

Mengutip kata seorang teman (dan saya yakin banyak yang akan mengamininya), yang penting dalam sebuah pameran fundraising adalah penjualan karya. Atas alasan itulah perkarya masing-masing seniman yang terlibat tidak saya ulas disini. Havana Affair adalah sebuah pameran fundraising, maka belilah karya-karyanya!

*Judul tulisan ini dipelesetkan dari kumpulan puisi Idrus, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma, terbitan Balai Pustaka, 1948.

HAVANA AFFAIR
Dikurasi oleh: Bambang ‘Toko’ Witjaksono

One Gallery, Jakarta, Indonesia
12-26 Februari 2009

 

About Grace Samboh

Believes in unicorn, conviviality and the struggle towards collective subjectivities—even temporarily.
%d bloggers like this: