2nd POSE: Pembuka Tahun Penuh Harapan

screenshot

Pengantar
“Meong-meong!” sambut para penonton White Shoes and the Couples Company (WSATCC) serentak 29 Januari lalu menyambut ajakan sang vokalis, Aprilia Apsari, untuk menyanyi bersama. Riuh rendah gelak tawa terdengar dari segala penjuru galeri dan kafe yang penuh-sesak. Mereka yang memenuhi tempat itu adalah khalayak seni-budaya di Yogyakarta. Beberapa wajah yang dijumpai disana bahkan datang dari kota lain. Antusiasme pengunjung tersebut dapat dinilai sebagai respon positif terhadap kegiatan yang diadakan oleh Ruang MES 56 di Jogja Gallery saat itu. Malam yang diramaikan dengan penampilan meriah WSATCC itu adalah malam pembukaan Presentasi 2nd POSE, Indonesian Portrait Artist’s Series, Part One: Yogyakarta.

Yogyakarta dipilih menjadi tempat pertama proyek ini dijalankan bukan karena di kota inilah Ruang MES 56 berdomisili. Daerah Istimewa ini selain dikenal sebagai kota pelajar juga merupakan kota kesenian. Lingkungan seni-budaya hidup segar di kota kesultanan ini. Di kota pertamanya, Ruang MES 56 memilih untuk menggunakan ruang kota sebagai studio-foto-luar-ruang sebagai siasat untuk turut mendokumentasikan ragam keruangan Yogyakarta dan kemungkinan perubahannya dalam rentang waktu tertentu.[i] Pameran presentasi perdana yang berlangsung sampai 13 Februari 2008 ini menampilkan potret-potret figur seniman lokal dilatari ruang publik dalam kota.

Tentang 2nd POSE
Setelah Yogyakarta, Ruang MES 56 akan melanjutkan pendokumentasiannya ke Bandung (2010), Jakarta (2012), dan Bali (2014). Proyek ini rencananya akan mendokumentasikan seniman se-Indonesia secara visual (baca: fotografis), kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku dan website agar tidak terbatas pada ruang dan waktu pameran dan bisa diakses publik. Pencatatan dan pengarsipan atas semua temuan, peristiwa, dan manusia-manusia, menurut Ruang MES 56, adalah salah satu pilar utama perkembangan ilmu pengetahuan seni-budaya. Sebagai institusi kajian dan pendokumentasian fotografi, Ruang MES 56 merasa bahwa dokumentasi seniman yang sudah ada belum cukup karena berhenti pada penggambaran seniman dalam konteks kesenimanannya (misalnya: Foto seniman dan karya). Perlu ada pengarsipan dalam bentuk data visual (Baca: Fotografis) yang lebih spesifik. Kemudian dijelaskan bahwa dokumentasi yang dimaksud berbentuk potret para seniman di Indonesia yang mengungkapkan sisi kemanusiaan dan kesehariannya dengan lebih detil dan baru.

Sebanyak 100 seniman akan didokumentasikan dalam buku yang akan dipublikasikan 2nd POSE.[ii] Menurut Angki Purbandono, arsip dalam website akan memuat semua seniman dari bidang apapun, sementara untuk 100 seniman yang masuk dalam buku, diseleksi berdasarkan pengalaman berkesenian masing-masing.[iii] Seniman yang fotonya dipamerkan dalam presentasi pasti ada dalam buku dan website, tetapi yang di dalam website belum tentu ada dalam buku, apalagi pameran presentasinya. Seleksi untuk sejumlah seniman yang fotonya dipamerkan dalam presentasi 2nd POSE berbeda lagi¾ini yang menarik. Mengingat 2nd POSE adalah proyek Ruang MES 56, yang berlandasan fotografi, mereka memilih sejumlah kategori bagi seniman yang fotonya akan dipajang dalam pameran presentasi mereka di setiap kota.

Bagaimana 2nd POSE menyeleksi seniman?
Pengalaman berkesenian tentu menjadi syarat utama dalam seleksi untuk pameran presentasi 2nd POSE, namun tidak hanya itu. Menjadi seniman besar dengan sejumlah riwayat pameran saja belum cukup untuk Ruang MES 56. Pengalaman berkesenian disini tidak terbatas hanya pada kuantitas pameran dalam curriculum vitae (CV) setiap seniman. Ruang MES 56 mempunyai penilaian-penilaian tertentu kepada masing-masing seniman. Angki mengatakan bahwa tidak hanya CV yang jadi pertimbangan mereka, seniman yang dipamerkan dalam presentasi 2nd POSE adalah mereka-mereka yang dinilai memiliki nilai plus dari perspektif Ruang MES 56. Apakah nilai plus itu? “Yah, mereka harus extra-ordinarily kreatif,“ lanjut Angki.[iv] Semua seniman memang kreatif, tetapi mereka yang fotonya dipamerkan dalam presentasi 2nd POSE adalah yang dinilai Ruang MES 56 lebih kreatif dan lebih menonjol.

Mengingat terbatasnya ruang untuk memamerkan presentasi tersebut, Ruang MES 56 tentu harus memaksimalisasi sejumlah foto yang diambilnya. Selain (masalah kreativitas) itu, mereka juga harus fotogenik, jelas Angki. Tentu karena berlandasan fotografis, Ruang MES 56 mempunyai mata berpengalaman dalam melihat wajah-wajah fotogenik. Untuk gambaran seperti apa seniman yang diseleksi Ruang MES 56 untuk dipamerkan, lihat saja presentasi pertama mereka kemarin ini. 2nd POSE menampilkan 30 seniman bernama besar di Yogyakarta dalam 23 foto.

Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian timbul
Sebuah pertanyaan kemudian muncul: apakah ke-30 seniman yang fotonya dipamerkan tersebut cukup merepresentasikan wilayah kesenimanan Yogyakarta?

Banyak yang juga bertanya-tanya, mengapa beberapa seniman tidak turut dipamerkan dalam presentasi pertama ini? Jelas sah bagi Ruang MES 56 untuk menyeleksi seniman mana yang mereka anggap sesuai untuk presentasi mereka. Suara-suara tendensius yang terdengar bisa menjadi tidak perlu dihiraukan ¾menurut saya¾ apabila mereka menyatakan sistem seleksi seniman mereka dengan jelas pada pernyataan kuratorial 2nd POSE atau publikasi apapun.

Apakah definisi ‘extra-ordinarily kreatif’ yang dinyatakan Angki sebagai kriteria utama dalam seleksi Ruang MES 56 terhadap seniman yang dipamerkan dalam presentasi?

Penutup
Pertanyaan-pertanyaan yang timbul tidak bersifat retoris. Ruang MES 56 harus bisa menjawabnya seiring 2nd POSE berjalan. Kejelasan sistem seleksi dan definisi kreativitas ala Ruang MES 56 pun harus diasosiasikan kepada publik.

Mengawali 2008, 2nd POSE merepresentasikan sifat tikus yang penuh harapan ini.[v] 2nd POSE merupakan sebuah proyek jangka panjang dengan harapan yang besar untuk tujuan akhir yang juga besar, baik bagi Ruang MES 56, maupun bagi dunia seni kontemporer.


[i] Lihat Katalog 2nd POSE, 2008 atau situs resmi 2nd POSE (http://www.mes56.com/2ndpose) untuk melihat arsip foto seniman yang dipamerkan dalam presentasi pertama mereka.
[ii] Ruang MES 56, “Gambaran Umum Buku” dalam Katalog Indonesian Portrait Artist’s Series 2nd POSE, Part One: Yogyakarta
[iii] Keterangan lebih lanjut mengenai seleksi seniman dalam perspektif 2nd POSE saya peroleh melalui obrolan dengan Angki Purbandono, Jumat, 4 April 2008.
[iv] Ibid.
[v] http://www.chinesseastrology.com/ratyear.php

About Grace Samboh

Believes in unicorn, conviviality and the struggle towards collective subjectivities—even temporarily.
%d bloggers like this: