Sst, kamu penipu, bukan?

Penipuan demi penipuan saya temukan dalam kehidupan saya beberapa waktu terakhir. Mungkin bahwa penipuan demi penipuan ini sebenarnya sudah terjadi dari dulu dan saya hanya baru disadarkan situasi.

Kasus penipuan yang paling umum, katakanlah, perselingkuhan (baik dalam bentuk hubungan percintaan atau apapun). Ah, ini nggak seru! Mari pindah ke kasus-kasus yang baru-baru ini saya temukan.

Pertama, pencurian ponsel milik teman serumah saya (yang dalam Berita Acara Pemeriksaan polisi setempat dituliskan sebagai tunangan, hanya karena sang polisi tahu saya berpacaran dengannya —lah, kalau memang hanya berbagi rumah bagaimana?). Pencuriannya sendiri memang bukan kategori penipuan, tapi beberapa jam setelah pencurian itu, muncullah kasus penipuan sialan yang saya maksud.

Seorang teman baik saya menghubungi saya via ponsel dan bertanya “Eh, Zuki kenapa minta gua isikan pulsa?” Lah, ya saya bingung, wong ponselnya baru saja hilang. Lalu saya ceritakan pada sang teman bahwa ponselnya baru saja hilang. Sang temanpun dengan baik hatinya meneruskan kepada saya pesan singkat yang diterimanya dari si orang yang mengaku Zuki itu.

Tak sampai satu jam, berbagai komentar, keluhan (karena tertipu dan sudah mengirimkan pulsa ke si penipu itu), dan cemoohanpun ramai berdatangan. Salah satu yang paling standar begini bunyinya, “Wah, asyik juga malingnya, sudah dapat ponsel, diisiin pulsa pula!”

Tsk, saya hanya bisa menggelengkan kepala dan memaki dalam hati, “Kampret!”

Kasus kedua, saya akumulasikan dari berbagai tayangan televisi. Yah, sampai saat ini saya masih beranggapan kotak yang biasanya menyala-nyala di ruang tamu nyaris keluarga manapun itu memang penipu paling dahsyat.

Wuih, bagaimana tidak dahsyat kalau sebuah tayangan bisa mengumpulkan seluruh keluarga dan menasihati semua anggotanya mulai dari ayah, ibu, anak-anak, sampai ke kakek-neneknya sekaligus tanpa membedakan derajat mereka dalam keluarga. Para pembawa acaranya tampil bak psikolog yang sudah mengenal masalah keluarga itu bertahun-tahun lamanya. Nggak percaya? Coba tonton Masihkah kau mencintaiku? yang oleh para penonton dalam studionya akan selalu disahuti “Masiiihhhh…!” itu.

Belum lagi tayangan-tayangan mengaku yang mengaku reality show itu. Oh ya, harus dicatat bahwa para produsernya sudah dengan cerdiknya menambahkan kata “drama” di depan frase bahasa Inggris yang menjadi genre laris-manis-tanjung-kimpul setelah Katakan Cinta itu). Nah, selain acara-acara jenis ini dari dulu memang selalu menganggu saya, kemasannya yang sekarang malah makin membuat saya antipati terhadap kotak menyala itu.

Bayangkan kalau yang ditampilkan secara konstan dalam sekian menit begini: Perempuan bawel dengan suara ber-pitch lumayan tinggi yang membawakan acaranya bisa dengan lincahnya menuturkan nasihat-nasihat standar dengan gaya dan penampilan Islami kepada orang-orang yang umurnya bisa jadi lebih tua dari orangtuanya sendiri.

Ah, ya, mungkin perempuan ini bukan bawel darisananya; hanya saja perannya dalam Tak Ada yang Abadi kelihatannya mengharuskannya tampil demikian. Anda semua sudah akrab toh dengan fakta bahwa reality show tidaklah menampilkan realita?

Tayangan-tayangan yang berbasiskan kehidupan nyata lainnya sekarang bahkan lebih mengganggu daripada sinetron. Entah yang selalu berusaha melucu (mulai dari Tukul Arwana sampai Extravaganza), yang gosip melulu, atau yang modelnya talkshow; semua merayakan kekurangan, kesedihan, dan bencana yang menimpa orang lain. Saya jadi ingat para pedagang kakilima dan pembelinya yang sama-sama diliputi gelak tawa di area Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah badai menerpa November 2008 lalu.

Ah, sebelum saya melantur terlalu jauh, mari pindah ke kasus terakhir (untuk tulisan ini). Seorang teman yang adalah redaktur sebuah jurnal dalam-jaringan baru saja bercerita tentang kontributor dalam jurnalnya. Melalui alamat surat elektronik jurnalnya, ia menerima beberapa kontribusi artikel dari seseorang berinisial AM. Dalam surat elektronik yang disertai foto dengan resolusi rendah itu, sang pengirim menyertakan nomor rekeningnya.

Sebagai redaktur yang baik, tentunya ia mencaritahu terlebih dahulu perihal calon kontributor jurnalnya ini. Google adalah solusi yang tercepat, bukan? Hebatnya Google, melalui pencarian sekali klik, si teman ini menemukan jabatan yang dipegang calon kontributor itu. Ia adalah koresponden sebuah kantor berita lokal dan wartawan harian lokal. Lebih hebatnya lagi (Google), si teman ini juga menemukan beberapa artikel yang dikirimkan sang calon kontributor ini telah dimuat dalam-jaringan.

Mau tahu apa yang lebih hebat lagi? Sejumlah artikel dan foto tersebut diunggah dengan masing-masing nama yang sama sekali bukan nama sang calon kontributor yang dengan murah hatinya mengirimkan nama dan nomor rekeningnya itu.

Wah, apakah dunia ini memang penuh dengan penipuan? Atau saya saja yang baru menyadarinya (beberapa hari terakhir ini)?

About Grace Samboh

Believes in unicorn, conviviality and the struggle towards collective subjectivities—even temporarily.
%d bloggers like this: